Tipe: Opini
Oleh: Theny Panie*
Pernah terkecoh dengan kabar viral di dunia maya? Saya kira Anda pasti pernah mengalaminya. Di era digital saat ini, siapa saja bisa tertipu dengan informasi yang cepat beredar di sekitar kita. Salah satu yang masih hangat untuk warga Kota Kupang adalah berita foto yang banyak beredar tentang pertemuan Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo dengan Wali Kota Tel Aviv, Ron Huldai. Kasus lainnya adalah berita foto tentang perjamuan di salah satu gereja (GMIT) yang menggunakan Roti Beta (sebuah merk roti lokal di Kupang).
Kalau kita perhatikan banyak komentar seputar contoh kasus itu, terlihat bahwa banyak orang sibuk berdebat tentang "siapa pelakunya", tapi hampir tidak ada yang bertanya: "mengapa kita begitu mudah terprovokasi sebuah kabar bohong?"
Pada contoh kasus pertama, tidak sedikit yang sangat cepat berkesimpulan bahwa ada agenda setting dari lawan politik atau tim sukses pihak sebelah yang sengaja memainkan isu ini. Tanggapan tak kalah heboh juga terjadi pada kasus kedua, bahkan ada yang menuduh bahwa itu rekayasa oknum tertentu dari gereja lain. Pertanyaan kritis paling sederhana tentang berbagai tanggapan itu adalah; benarkah atau cukup beralasankah tuduhan-tuduhan seperti itu?
Dunia Digital yang Liar
Kita perlu menyadari satu kenyataan: dunia digital itu liar dan sering kali bekerja tanpa nalar. Di dunia maya, sebuah informasi palsu bisa lahir bukan karena direncanakan di sebuah ruangan gelap oleh tim sukses lawan, melainkan hanya karena keisengan seseorang yang ingin melihat seberapa jauh sebuah gambar editan bisa menyebar.
Apa tujuannya? Salah satunya untuk mengejar trafik media sosial. Orang Kupang bilang, "Tes Ombak," tanpa peduli siapa tokoh yang menjadi korbannya. Sialnya adalah kita terlanjur panas hati dan ikut memviralkan konten itu dengan bantahan-bantahan kita. Dunia digital memungkinkan kesalahan teknis atau salah paham kecil - karena hati yang panas tadi, bisa berubah menjadi bola salju yang besar hanya dalam hitungan menit. Artinya, menyimpulkan bahwa setiap hoaks adalah 'serangan terencana' bisa jadi merupakan kesimpulan yang terlalu terburu-buru. Kita sering kali sibuk mencari dalang di balik layar, padahal hoaks sering kali bukan "monster" yang diciptakan secara sengaja, melainkan hasil dari reaksi berantai yang tidak terkendali.
Kenyataan bahwa dunia maya begitu liar inilah yang seharusnya membuat kita lebih waspada. Namun, pertanyaannya tetap sama: mengapa kita tetap saja mudah terjebak? Di sinilah kita perlu melihat ke dalam diri sendiri, pada sebuah fenomena yang disebut Confirmation Bias atau bias konfirmasi. Sederhananya, ini adalah kondisi di mana otak kita hanya mau menerima informasi yang sesuai dengan apa yang sudah kita yakini atau kita rasakan sebelumnya.
Lalu, kita buru-buru membela atau membantah dengan berbagai argumen di media sosial. Akhirnya foto-foto hasil rekayasa AI itu beredar semakin luas. Jika kita sudah terlanjur tidak menyukai seorang figur atau institusi, maka kabar miring apa pun--meskipun belum tentu benar--akan langsung kita telan bulat-bulat sebagai fakta yang mutlak dan "enak" kalau di-share. Kita tidak lagi mencari kebenaran, melainkan hanya mencari pembenaran atas rasa benci atau rasa suka kita. Dalam kasus foto pertemuan di Tel Aviv tersebut, hoaks menjadi raksasa bukan karena pembuatnya hebat, melainkan karena ia mendarat di atas 'lahan subur' pikiran kita yang sudah terkotak-kotak oleh kepentingan politik. Begitu juga kasus roti perjamuan itu.
Menata Ulang Daya Kritis
Pada titik ini, daripada kita membuang energi untuk menebak siapa 'dalang' atau apa 'kepentingan politik' di balik sebuah hoaks, akan jauh lebih produktif jika kita mulai menata kembali cara kita mengonsumsi informasi atau memperkaya literasi warga tentang bagaimana cara efektif memilah informasi di media sosial. Menunjuk hidung orang lain memang memuaskan ego, tapi memperkuat daya kritis diri sendiri adalah satu-satunya jalan keluar. Sebab, terlalu cepat menuduh pihak lain sebagai 'pembuat hoaks' tanpa bukti yang sah justru bisa menimbulkan masalah baru: lahirnya hoaks di atas hoaks. Saat kita dengan gagah mengatakan, 'Ini pasti kerjaan tim sukses sebelah!', sebuah pertanyaan kritis akan muncul: Dari mana Anda tahu?
Jika Anda tidak memiliki bukti digital atau hasil penyelidikan otoritas terkait, namun begitu yakin dengan tuduhan tersebut, jangan-jangan Anda sendiri sedang menjadi sumber hoaks yang baru. Di titik ini, kita tidak lagi sedang melawan kebohongan, melainkan sedang menambah daftar panjang kegaduhan dengan spekulasi yang tidak berujung. Lebih parahnya, Anda sedang membuka peluang terjerat konsekuensi hukum sesuai regulasi yang berlaku (seperti UU ITE).
Pada sisi lain, sering kali, dalam semangat membara ingin melawan kabar bohong, kita justru tergelincir menjadi apa yang kita lawan. Kita marah pada hoaks, tapi kita sendiri menyebarkan spekulasi yang kebenarannya masih 'remang-remang'. Akhirnya, beda antara kita dan si pembuat hoaks hanya satu: mereka melakukannya dengan sengaja, kita melakukannya karena merasa paling benar.
Berhentiah bersikap seolah-olah kita adalah 'orang dalam' yang tahu segalanya. Dunia digital tidak sesederhana plot film detektif di mana kita bisa langsung menebak pelaku hanya dari satu foto editan. Menuduh tanpa dasar bukan menunjukkan kita kritis, melainkan menunjukkan betapa mudahnya logika kita 'melompat' hanya untuk memuaskan ego - entah karena benci pada lawan, atau sekedar ingin cari muka pada atasan.
Karenanya tawaran sederhana dari saya adalah, mari lebih kritis juga dewasa. Berpikir kritis itu sederhana, namun butuh kedewasaan. Kita bisa memulainya dengan keberanian untuk bertanya: 'Benarkah ini? Dari mana sumbernya? Apakah foto ini masuk akal?' sebelum jempol kita bergerak menekan tombol bagikan (share). Kita perlu melatih diri untuk tidak menjadi 'kurir gratis' bagi berita bohong. Jika sebuah kabar terasa terlalu pas dengan rasa benci atau rasa suka kita, justru di situlah kita harus berhenti sejenak dan curiga--jangan-jangan kita sedang dijebak oleh perasaan kita sendiri dan menimbulkan spekulasi yang bisa jadi tidak berujung.
Kado untuk 140 Tahun Kota Kupang
Pada akhirnya, tanggal 25 April tahun ini, Kota Kupang akan merayakan hari jadinya yang ke-140, sekaligus menandai 30 tahun perjalanannya sebagai daerah otonom. Di usia yang semakin matang ini, kado terbaik yang bisa kita berikan sebagai warga bukan sekadar kemeriahan seremoni, melainkan sumbangsih nyata berupa kedewasaan dalam menjaga ruang publik kita. Kota yang maju bukan hanya dilihat dari gedung-gedungnya, tapi dari seberapa jernih warga di dalamnya dalam mengolah informasi. Menangkal hoaks adalah kerja kolektif, sebuah bentuk cinta kita pada kota ini agar tidak terpecah belah oleh kegaduhan yang sia-sia. Itu bisa dimulai dari circle kita--mungkin di group WA keluarga atau kantor kita, dengan membiasakan menegur secara baik jika ada yang berbagi konten berpotensi hoaks.
Mari kita berhenti menjadi lahan subur bagi fitnah. Karena kebenaran tidak butuh pembelaan yang emosional; ia hanya butuh ruang yang tenang agar fakta bisa berbicara apa adanya. Selamat menyongsong ulang tahun untuk Kota Kupang. Mari menjadi lebih cerdas, lebih dewasa.
Diterbitkan pada: 2026-04-13 11:34:00
Diterbitkan Oleh: PIC Kabas Hoax